Selasa, 04 Mei 2010

PERBANDINGAN GAYA KEPEMIMPINAN ORDE BARU DAN REFORMASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang pemimpin dan Kepemimpina masa depan erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa ini. Bangsa ini, masih membutuhkan pemimpin yang kuat di berbagai sektor kehidupan masyarakat, pemimpin yang berwawasan kebangsaaan dalam menghadapi permasalahan bangsa yang demikian kompleks. Ini selaras dengan kerangka ideal normatif sistem Kepemimpinan nasional sebagai sebuah sistem dalam arti statik maupun arti dinamik. Dalam arti sistem yang bersifat statik, sistem kepemimpinan nasional adalah keseluruhan komponen bangsa secara hierrarkial (state leadership, political and entrepreneural leadership and societal leadership) maupun pada tatanan komponen bangsa secara horizontal dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Sementara itu, dalam sistem yang bersifat dinamik, sistem kepemimpinan nasional adalah keseluruhan aktivitas kepemimpinan yang berporos dari dan komponen proses transformasi (interaksi moral, etika dan gaya khepemimpinan) dan akhirnya keluar dalam bentuk orientasi kepemimpinan yang berdimensi aman, damai, adil dan sejahtera.
Saat ini, kita butuh pemimpin yang berorientasi kepada kepentingan, kemajuan, dan kejayaan bangsa dan negara, bukan kepada kepentingan pribadi/kelompok, bukan untuk melanggengkan kekuasaan kelompok, dan bukan pula kepemimpinan yang membiarkan hidupnya budaya anarkhisme, budaya kekerasan, dan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Kita butuh, pemimpin berwawasan kebangsaan, pemimpin Pancasilais, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan UUD Negara RI Tahun 1945, serta memahami karakter dan kultur bangsa Indonesia
Pemimpin dan kepemimpinan masa depan yang integratif harus memiliki pola pikir, pola sikap dan pola tindak sebagai negarawan. Makna dari negarawan adalah seorang pemimpin yang diharapkan mampu mengubah kondisi saat ini melalui proses untuk menciptakan kondisi yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan nasional dan mewujudkan cita-cita nasional. Pemimpin akan dapat melaksanakan fungsi kepemimpinan-nya dengan efektif, apabila ia diterima, dipercaya, didukung serta dapat diandalkan. Seorang pemimpin harus memiliki reputasi yang baik, menunjukkan kinerja yang diakui,

terutama dalam mengantisipasi tantangan-tantangan di depan dan keberhasilannya mengatasi masalah masalah yang kritikal dan membawa kemajuan-kemajuan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Gaya Kepemimpinan Rezim Orde Baru ?
2. Bagaimana Gaya Kepemimpinan Era Reformasi ?
3. Bagaimana Perbandingan Gaya Kepemimpinan Orde Baru dan Reformasi ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Gaya Kepemimpinan Rezim Orde Baru
2. Untuk mengetahui Gaya Kepemimpinan Era Reformasi
3. Untuk mengetahui Perbandingan Gaya Kepemimpinan Orde Baru dan Reformasi













BAB II
PEMBAHASAN

A. Gaya Kepemimpinan Rezim Orde Baru
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia.orde baru menggantikan orde lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan orde Lama Soekarno. orde baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
dramatis gaya kepemimpinan Rezim Orde Baru (Soaharto) adalah Otoriter/militeristik. mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.
Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau. Orde Baru Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.
Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.
B. Gaya Kepemimpinan Era Reformasi
Kepemimpinan masa depan di era reformasi ini dalam mewujudkan terciptanya ketahanan dan stabilitas nasional dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasional. Reformasi adalah Redemokratisasi Sudah sembilan tahun bangsa ini mengarungi masa reformasi sejak Soeharto dan rezim Orde Baru tumbang, 21 Mei 1998.Namun, sejujurnya perubahan mendasar yang menyentuh kehidupan rakyat kecil, mereka yang lemah, miskin,dan tersingkir, belum terjadi. Berbagai persoalan yang dihadapi rakyat dan korban kekuasaan bukannya berkurang, tetapi justru kian kompleks. Angka kemiskinan dan jumlah
pengangguran meningkat. Gus Dur, Megawati, dan SBY adalah presiden yang memimpin bangsa ini di Era Reformasi.
Gaya Kepimipinan Presiden Abdurrahman Wahid adalah gaya kepemimpinan Responsif-Akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua kepentingan yang beraneka ragam yang diharapkan dapat dijadikan menjadi satu kesepakatan atau keputusan yang memihki keabsahan. Pelaksanaan dan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan diharapkan mampu menggerakkan partisipasi aktif para pelaksana di lapangan, karena merasa ikut terlibat dalam proses pengambil keputusan atau kebijaksanaan.
Gaya kepemimpinan Megawati bila dilihat berdasarkan ciri-ciri kepemimpinan ideal yang dimiliki. Megawati tenang dan tampak kurang acuh dalam menghadapi persoalan. Tetapi dalam hal-hal tertentu, menunjukkan determinasi dalam kepemimpinannya, misalnya mengenai persoalan-persoalan di BPPN, kenaikan harga BBM dan pemberlakuan darurat militer di Aceh.
Gaya Kepemimpinan SBY berdasarkan ciri-ciri dari Kepemimpinan ideal yang sesuai dengan beliau diantaranya adalah, pengetahuan umum yang luas seperti yang telah dituliskan Mar’ie Muhammad bahwa SBY adalah seorang militer intelektual, kemudian kemampuan analitik yang tajam yang kadangkala mengurangi kecepatan dalam mengambil keputusan. Keterampilan berkomunikasi secara efektif juga dimiliki beliau dimana terlihat dampaknya pada kabinet yang dipimpinnya.
C. Perbandingan Gaya Kepemimpinan Orde Baru dan Reformasi
Untuk membandingkan gaya kepemimpinan pada masa Orde Baru (otokratik) dan Reformasi,dapat dilakukan dengan membandingkan tipe dari kedua gaya kepemimpinan tersebut.
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakter yang negatif. Dilihat dari persepsinya seseorang yang egois Gaya Kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
1. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
2. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
3. Bernada keras dalam pemberian perintah atau intruksi
4. Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan
Sedangkan gaya kgepemimpinan yang digunakan dalam era reformasi adalah gaya demokratik dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi
2. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan
3. Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya
4. Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menunjang harkat dan martabat manusia.
5. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.


















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kedua gaya kepemimpinan tersebut dapat di lihat dari tipe kepemimpinan sebagai berikut:
Tipe Rezim orde Baru (otokratik)
a. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
b. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
c. Bernada keras dalam pemberian perintah atau intruksi
d. Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan.
Tipe Demokratik (Era Reformasi)
1. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi
2. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan
3. Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya
4. Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menunjang harkat dan martabat manusia.
5. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
B. Saran-saran
Diharapkan kepada para mahasiswa agar lebih mengetahui dan mengkaji lebih dalam lagi mengenai gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh setiap pemimpin negara kita.


Tugas Kepemimpinan Pemerintahan

PERBANDINGAN GAYA KEPEMIMPINAN
ORDE BARU DAN REFORMASI



DISUSUN OLEH

NURFIDAR KAMARUDDIN
B 401 07 004

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TADULAKO
2010

KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr.Wb
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahamat dan hidayahNyalah sehinggan penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu dan memberikan semangat kepada penilis sehingga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya. Di dalam penulisan makalah ini penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh sebab itu apabila dalam penulisan ini tersdapat kesalahan dan kekeliuruan penulis barharap kritik dari para pembaca.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa ilmu pemerintahan dan masyarakat pada umunya.

Billahitaufik wal Hidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb

Palu, 05 April 2010

Penulis









Daftar Isi

Kata Pengantar ......................................................................................
Daftar isi ......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar Belakang ......................................................................................2
B. Rumusan Masalah ......................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................3
A. Gaya Kepemimpinan Orde Baru ..........................................................................3
B. Gaya Kepemimpinan Reformasi ..........................................................................4
C. Perbandingan Gaya
Kepemimpinan Orde Baru
Dan Reformasi .........................................................................5

BAB III PENUTUP ......................................................................................6
A. Kesimpulan ......................................................................................7
B. Saran ......................................................................................7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar